Rusia Matikan Suplai Gas, Eropa Lari ke RI?

  • Bagikan
Imbas Sanksi, Raksasa Minyak AS Bekukan Proyek Baru di Rusia


Jakarta, Eksekutif – Rusia pada Senin (11/7/2022) menyetop aliran gas di pipa yang membawa gas ke Eropa. Meski pihak Moakow beralasan penghentian aliran pipa gas itu hanya karena adanya pemeliharaan selama 10 hari ke Nord Stream 1, hal ini membuat negara-negara Eropa ketar-ketir.

Sebab, penghentian aliran gas Rusia melalui Nord Stream 1 itu bisa menyebabkan Eropa terancama krisis gas. Karena seperti yang diketahui, Pipa Nord Stream 1 mengangkut 55 miliar meter kubik (bcm) gas per tahun dari Rusia ke Jerman di bawah Laut Baltik.

Lalu apakah negara-negara Eropa akan lari ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gasnya? Maklum Indonesia diproyeksikan akan memiliki Liquefied Natural Gas (LNG) sebanyak 200 kargo di tahun 2022 ini.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, hingga kuartal I-2022, produksi LNG Indonesia telah mencapai 42 kargo. Produksi tersebut berasal dari Kilang Tangguh sebanyak 21.6 kargo dan sisanya berasal dari Kilang Bontang yakni 20,4 kargo.

Sekretaris SKK Migas, Taslim Z Yunus menyatakan, bahwa negara-negara Eropa tersebut cenderung memilik Timur Tengah dan Afrika untuk memenuhi kebutuhan gasnya.

“Timur Tengah dan Afrika lebih dekat dan lebih murah bagi mereka,” terang Taslim kepada Eksekutif, Selasa (12/7/2022). Sayang Taslim enggan membeberkan apakah sudah ada negosiasi antara negara-negara Eropa dengan Indonesia perihal ini.

Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pun memberi warning ke Eropa. Ia mengatakan kelompok benua itu perlu mempersiapkan kemungkinan bahwa Rusia menyetop pasokan gas.

“Rusia tidak pernah bermain sesuai aturan dalam energi. Tidak akan bermain kecuali memperlihatkan kekuatannya,” kata Zelenskyy di aplikasi perpesanan Telegram, menurut terjemahan NBC News, dikutip CNBC International, Selasa (12/7/2022).

“Sekarang tidak ada keraguan bahwa Rusia akan mencoba tidak hanya untuk membatasi sebanyak mungkin tetapi juga untuk sepenuhnya menghentikan pasokan gas ke Eropa,” tambahnya.

“Inilah yang perlu kita persiapkan untuk saat ini.”

Sementara itu, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak klaim bahwa Rusia menggunakan minyak dan gas untuk memberikan tekanan politik. Ia mengatakan penutupan karena pemeliharaan adalah acara rutin yang dijadwalkan dan tidak ada upaya “membuat-buat kondisi perbaikan”.

Namun pemimpin Eropa menilai Rusia sengaja “membalas dendam”. Ini karena sanksi yang dijatuhkan seiring serangan Rusia ke Ukraina.

“Kami diberitahu, bersifat teknis. Kami.. dan lainnya percaya bahwa ini adalah kebohongan,” ujar Perdana Menteri (PM) Italia, Mario Draghi, dikutip Reuters.

“Berdasarkan pola yang telah kita lihat, tidak akan terlalu mengejutkan sekarang jika beberapa detail teknis kecil ditemukan dan kemudian mereka bisa mengatakan ‘sekarang kita tidak bisa menyalakannya lagi’,” kata Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Harga Gas Bakal Tinggi Sampai 2025, Ini Biang Keroknya..

(pgr/pgr)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terhubung Dengan Kami
Link Asli adalah EKSEKUTIF.com - Hati-Hati Dengan Jurnalis Yang Mengaku Majalah Eksekutif. Organik kami berintegritas. Mematuhi kode etik Dewan Pers. Memiliki ID Card majalah eksekutif. JIka kurang yakin, silahkan WA 0816-1945-288 untuk konfirmasi.
Tak Hanya Produk Branding, Media Massa Pun Dipalsukan Seperti Majalah EKSEKUTIF ini